berpikir lalu

Apa yang muncul di ruang kepalamu, ketika kau berpikir tentang ‘lalu’. Masa yang jelas-jelas terlewati. Tak peduli sedetik lalu, atau bahkan berabad lalu. Sepele. Ini sangat sepele. Kau bisa memilih untuk tidak bersusah payah memikirkannya. Cukup dengan menutup segalanya, lalu mengenyahkannya. Kau tak perlu berpikir keras bahwa ada ‘tali’ penyambung antara ‘lalu’ dan ‘kini’. Kau tidak begitu saja terlempar ke dunia ini, lalu menjelma dirimu kini. kau datang dari masa lalu. Dan kini? kau cukup membuat dirimu terjaga bahwa kau datang dari ‘lalu’. Agar kau tak perlu bersusah payah mencari sejarahmu. Kau tak perlu menciptakan sejarahmu. Tapi kini? Kau cukup menciptakan ‘kini’-mu dan seterusnya.

Tapi bagaimana jika kau begitu saja melupakan apa yang telah diberikan ‘lalu’-mu pada ‘kini’-mu? Kau tak perlu khawatir, jika detik ini juga kau terjaga akan “lalu”-mu, maka kau masih memiliki kesempatan menjadikannya sebagai ‘jalan’ untuk ‘kini’-mu dan seterusnya. Atau mungkin itu tidak terlalu penting bagimu. Sepertiku yang sempat tak terjaga akan ‘lalu’-ku. Sampai di satu waktu aku kembali terjaga, dan ada semacam penyesalan kenapa aku nyaris mengabaikan ‘lalu’-ku. Hingga membuatku terlepas dari ‘tali’ itu. Sesuatu yang telah memberiku jalan berpikir untuk melangkah menuju ‘kini’. Dan ketika aku terjaga, aku tak ingin lagi melakukan kesalahan yang sama. Aku ingin tetap mengenal diriku, dengan tetap terjaga pada ‘lalu’, hingga aku mengenal diriku dan sejarahku. Dan karena aku tak ingin tersesat menemukan diriku. Aku tak ingin amnesia.