tak ada sekat

kurang lebih dua tahun lalu, kutulis tak ada sekat meski ragam. tentang pertemuan singkat namun begitu membekas. kali pertama merasa begitu dekat dengan mereka yang awalnya terasa ‘jauh’. namun mereka dan aku bersahabat dalam waktu sesingkat itu.

dan beberapa hari lalu. mereka seakan datang lagi. meski rupa mereka tak sama, namun kehangatan mereka sama hangatnya dengan pertemuan singkatku dulu. ya, kali ini masih sama. pertemuan yang juga singkat. para pendeta dan aktivis Gereja Paulus Jakarta itu terlihat santai, namun mimik wajah mereka tetap serius dengan sorot mata fokus pada pemutaran video profil Fahmina-institute Cirebon.

Di samping kanan kiri mereka, ada sejumlah Jemaat Ahmadiyah, Majelis Ta’lim Hidup Didalam Hidup (HDH), mahasiswa Institute Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon dan aktivis Fahmina-institute Cirebon. Tidak ketinggalan sejumlah aktivis Forum Sabtuan Cirebon, salah satu forum lintas agama, berada di tengah-tengah forum yang ‘langka’ itu. Dalam forum lintas agama itu mereka duduk stara di ruang pertemuan ISIF Cirebon, usai mengunjungi Pondok Pesantren (Ponpes) Pondok Jambu Babakan Ciwaringin Cirebon, pada Sabtu (27/11).

aku mendengar dan merasakan langsung kesan-kesan yang mereka lontarkan. tentang kerinduannya akan keragaman. kesan yang diungkapkan dari awal sampai akhir kunjungan, seakan menggambarkan rasa rindu mereka akan forum lintas agama itu. Bagi sebagian masyarakat, mungkin pemandangan dalam ruangan itu terkesan janggal atau tidak biasa.

Ya, meski di negeri ini pernah digelar berbagai pertemuan untuk mempertemukan pemeluk agama yang berbeda, namun belum bisa dikatakan membuahkan hasil yang memuaskan. Tujuannya juga sama, menjalin sebuah kehidupan harmonis dalam masyarakat di tengah sebuah keragaman. Kerap masih ada sekelompok yang melampaui batas dan mencederai dialog yang selama ini dibangun.

Hal ini rupanya menjadi kegelisahan tersendiri bagi sejumlah Pendeta dan aktivis Gereja di Jakarta. Seperti diungkapkan Pdt Silviana, Inisiator Dialog Lintas Agama Gereja dan Masyarakat (Germa) Paulus Jakarta. Bisa mengunjungi sebuah lembaga pesantren dan berdialog langsung dengan para Kiai dan Nyai serta aktivis Islam lainnya, bukanlah sesuatu yang mudah.

Bagaimana tidak, dialog lintas agama itu telah diinisiasi sejak tahun 1999. Namun program tersebut selalu tidak berhasil, karena menurut Silviana tidak mudah menemukan dan mengunjungi sebuah pesantren.

“Kalau ini disebut plan (rencana-red), mungkin ini yang terbesar. Kami melakukannya agar jemaat kami mengenal dialog lintas iman. Termasuk pluralitas. Agar juga memahami kekayaan dialog lintas iman dalam civil society. Kami menamakannya perjalanan lintas iman,” paparnya.

Belajar Sekaligus Memperkuat Spiritualitas

Upaya dialog lintas agama atau lintas iman, juga bukan sekali dua kali diupayakan ke beberapa masjid. Namun diakuinya, lagi-lagi gagal. Jemaat gereja pun menurutnya, bisa saja menjadi kurang sensitif karena ekskalasi konflik agama yang semakin meningkat di negeri ini. Seperti tahun 2001, dia berusaha agar bisa berdialog dengan masjid terdekat dengan alasan masih takut. Akhirnya dialog pun gagal dilakukan sesuai rencana.

“Bahkan ketika ada sebuah LSM yang mencoba berdialog dengan 5 masjid dan gereja. Namun semua masjid itu menolak, lima-limanya menolak. Belakangan saya pikir, meskipun Cirebon jauh, tapi secara hati dekat. Jadi kami ingin jemaat kami berdialog.”

Dalam perjalanan lintas agama tersebut, lanjut Pdt Silviana, jemaat akan belajar tentang bagaimana agama Islam berkontribusi dalam kegiatan pendidikan, serta bagaimana menyebarkan keadilan yang melampaui batas-batas agama, gender, budaya, dan lainnya.

“Kita semua percaya bahwa persahabatan kita tumbuh atas keyakinan bahwa kita percaya kita bisa hadapi dengan baik. Selanjutnya kami berharap teman-teman bisa berdialog lintas iman. Seperti mengungkapkan pengalaman yang memperkaya kekuatan spiritual.”

Sejumlah pertanyaan, ungkapan kesan, serta penyampaian gagasan yang terlontar peserta forum, membuat acara tersebut tidak sekadar kunjungan. Karena dalam forum tersebu juga bergulir sejumlah gagasan dari tokoh-tokoh agama berbeda keyakinan. Namun sekali lagi mereka saling berbagi pengalaman dan berbagi solusi persoalan.

Tidak heran ketika Marzuki Wahid, Direktur Fahmina-institute mengungkap bahwa tuan rumah dalam kunjungan tersebut bukan hanya Fahmina, tetapi juga Jemaat Ahmadiyah, HDH, serta Forum Sabtuan yang di dalamnya ada tokoh-tokoh agama dari Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu, dan Pemuda Anshor NU.