masih

suatu hari di dua puluh tahunan lalu, aku dicintai mereka dari jauh. dan aku tak perlu memilih atau memutuskan sesuatu, katanya. suatu hari di belasan tahun lalu, aku menghujat. masih di suatu hari belasan tahun lalu, aku tak ingin menjadi aku. masih di suatu hari belasan tahun lalu, aku medendam sesuatu. aku lebih memilih medendam diri sendiri dari apapun.

masih di suatu hari belasan tahun lalu, mulai ‘merangkak’. lalu ‘bangkit’. hingga aku ‘berdiri’. masih di suatu hari belasan tahun lalu, aku ‘kering’, ‘sunyi’, ‘sendiri’, tapi tetap ‘berdiri’. suatu hari di beberapa tahun lalu, aku ditemani ‘bijak’. masih suatu hari di beberapa tahun lalu, aku ‘lelah’. masih di suatu hari lalu, aku ‘tiada’. masih di suatu hari lalu, aku ‘ada’. masih di suatu hari lalu, aku masih ‘ada’. dan terus ‘ada’.

masih di suatu hari lalu, seseorang ‘meludahi’ku. tentu saja, ‘meludahi’-ku tepat di punggungku. tapi di dadaku, dia memujaku. aku kaget. tapi sekadar kaget. aku heran. tapi sekadar heran. lalu aku membunuhnya dari ruang kepalaku. aku membunuhnya dalam imajiku. masih di suatu hari beberapa tahun lalu, aku menengok seseorang, lalu meyakininya. magis, perlahan, seseorang itu melakukan hal yang sama. suatu hari di dua puluh tahunan, belasan tahunan, beberapa tahunan, dan detik ini, aku ‘berdiri’ dan ‘sendiri’. detik ini, aku masih ‘mencari’. masih butuh ‘jawaban’. masih ‘menerjang’. masih tetap kapan dan tetap ‘membumi’.