perjalanan ‘ingin’-ku

Ketika aku melihat mereka berhasil menaklukan debar. Aku ingin melakukan hal yang sama. Lalu aku melakukannya. Ketika aku melihat mereka berada di tiga terbaik. Aku ingin dan aku berhasil melakukan hal yang sama. Ketika mereka berhasil menaklukan jalan, aku ingin dan berhasil menaklukan jalanan di tengah hujan lebat dengan bermotor. Ketika mereka berhasil jungkir balik di tengah masyarakat dengan pena-nya, aku ingin dan berhasil melakukannya.

Ketika mereka berhasil memulai hidup baru, aku ingin dan aku merasakannya. Kini aku terlalu banyak menikmati musik. Tapi aku buta nada. Tapi aku tak ingin selamanya buta nada. Aku ingin bisa bermain salah satu alat musik. Keinginan itu tiba-tiba muncul. Menggebu-gebu. Ingin sekali.

Lalu aku bertanya, apakah aku terlambat? Aku juga terus bertanya, bagaimana jika tidak ada keturunan bakat musik dan lain sebagainya? Aku tak peduli. Aku mau belajar. Seperti ketika aku menggebu-gebu ingin bisa merangkai kata. Seperti ketika aku tak peduli dengan ketidakmungkinan yang mereka lemparkan padaku. Dan ternyata tidak ada yang tidak mungkin.

Aku ingin bisa membaca nada. Aku ingin bisa bermain musik. Aku ingin dan aku ingin mencoba sesuatu yang belum aku bisa. Aku ingin. Akan terus ingin.