‘sendiri’ dan bahagia

ribuan malam lalu aku pernah merasa sendiri. berfikir konyol bahwa tidak ada satu pun sosok memikirkanku. dulu, ribuan malam dulu. kini, ketika aku hanya berfikir bagaimana agar tubuhku bisa normal kembali. sosok-sosok muncul datu per satu dengan empatinya. aku tergugah. aku tidak sendirian. aku bahagia. aku tiba-tiba cengeng. dan aku bahagia.

ribuan hari lalu, aku hanya bersama isi kepalaku. aku merasa sendiri dan memang sejatinya sendiri. aku jungkir balik memutar isi kepalaku. hanya agar, menemukan ‘jalan’. ‘jalan’ agar esok aku tetap ‘ada’. dan aku beruntung. aku menemukan jalanku. tapi tentang ini, sampai kini, aku tetap sendiri. karena aku memilih sendiri. dan aku bahagia.

ribuan malam dan hari lalu aku pernah merasa sendiri. ketika mereka tegap berjalan bersama ‘seseorang’, aku lebih memilih tegap dengan ‘kesendirian’. aku selalu mampu menaklukan sendiri ‘kesendirian’ itu. aku berusaha. dan aku bahagia.

kini aku ingin ‘terbang’ sendiri. dan aku tau aku perlu memulainya dengan ‘mimpi’-ku sendiri. ‘mimpi terbang’ menjadi sesuatu yang ada di ‘mimpi’-ku. lalu ‘mimpi-mimpi’ itu menjelma nyata. aku berusaha. dan aku bahagia.