Malinda Dee: Dihujat Sekaligus Dinikmati?

Beberapa pekan lalu nama Malinda Dee (MD) berhasil mengalihkan perhatian public dari sejumlah isu penting lainnya, lantaran perilaku kriminalnya menggasak miliaran rupiah uang nasabah Citibank. Lalu beberapa pekan ini juga kembali meramaikan perbincangan, termasuk di sejumlah media online, lantaran terkuak penyakitnya. Selain Malinda Dee, juga ada Selly Yustisiawati dengan aksi penipuannya melalui bisnis pulsanya.

Namun yang memprihatinkan, perhatian public bukan semata pada aksi kejahatan mereka. Melainkan merembet pada sosok mereka sebagai perempuan yang juga cantik. Termasuk komentar public atas kasus mereka di sejumlah situs jejaring sosal serta media online lainnya. Di mana, melalui media online, kita bisa memberikan komentar bebas dan terkadang tanpa ada sensor dari pemilik media.

Dan yang sampai saat ini masih hangat dan secara terus menerus disorot adalah perbincangan terkait penyakit yang diderita oleh Malinda dalam proses penahananya. Seperti beberapa komentar yang diambil dari beberapa media online berikut.

“Dodol:cewe kalo cantik banyak tingkahnya! mulai dari sekedar manfaatin laki laki sampe ke penipuan. senjatanya? apalagi kalo bukan mengumbar muka cantik n body seksi aduhai. makanya jangan ngomong soal eksploitasi perempuan, justru mereka sendiri yg suka nawarin diri untuk diekploitasi guna mendapatkan materi.”

“Waw:MD kurang genjotan kali jadi nasabah ngamuk ga puasssssssss”

“Kang Mamat: pa Pulisi tolong yg meriksa dua penjahat cantik ini ibu Polwan aja….akangmah takut kalo yg periksa pa pulisi lututnya jd gemetaran truss gak konsen nanyanya, karena lihat belahan dua bola basket ygnyembul gak karuan, blm lagi cara duduknya yg pastinya jg pake gerakan kayak naek ojek…walahhhh”

Komentar-komentar tersebut diambil dari pemberitaan di dua media online yang dinilai memiliki kelas pembaca yang cukup berbeda. Salah satunya dinilai dari tingkat pendidikan, yaitu detik.com yang selama ini dikenal memiliki pembaca yang cukup beragam latar pendidikan maupun social, kemudian kompas.com yang dikenal lebih banyak memiliki pembaca lebih banyak dari kalangan menengah berpendidikan.

Namun komentar yang diperlihatkan di sini sengaja dibatasi tiga komentar saja. Untuk mengetahui lebih banyak lagi, bisa dilihat langsung ke dua media online tersebut. Karena tulisan ini bukan untuk membandingkan berapa nominal komentar-komentar yang muncul, melainkan untuk membincang lebih jauh ada apa dibalik pesan khalayak media yang tidak pernah lepas dari pesan-pesan bias gender. Terlepas bahwa semua itu adalah hak siapapun untuk memberi komentar.

Komentar-komentar tersebut adalah komentar yang diambil pada saat pertama kali pemberitaan seputar kejahatan Malinda terkuak. Dan jangan tanya bagaimana reaksi khalayak, terutama pengguna media online, ketika berita perihal sakitnya Malinda terungkap, karena komentar-komentar yang muncul ternyata lebih ‘rusak’ lagi. Setidaknya demikian, istilah ‘rusak’ ini dipakai oleh salah satu komentator yang merasa perihatin dengan komentar-komentar di media online.

Tubuh Perempuan Objek Utama

Terlepas dari kaum lelaki atau perempuan yang mendominasi komentar-komentar di atas, dilihat dari sudut manapun, seakan-akan perempuan selalu menjadi penyebab utama segala tindak kejahatan. Sehingga perbincangan tidak lagi terfokus pada tindak kejahatan mereka, tapi publik juga diam-diam maupun terang-terangan menikmati pemberitaan bagaimana tubuh perempuan tersebut digambarkan media. Apalagi sisi tersebut secara terus menerus diulang dengan pemilahan istilah-istilah yang cukup mengundang reaksi beragam.

Realitasnya bukan hanya menimpa MD dan Selly, bahkan respon serupa juga tidak jarang menimpa perempuan korban pelecehan dan kekerasan seksual. Yang muncul bukan hanya ungkapan simpati atas apa yang menimpa mereka, tapi juga menyalahkan mereka sebagai pelaku penyebab. Seperti ungkapan-ungkapan berikut; “perempuannya saja yang memancing-mancing!”.

Secara tidak langsung apapun yang dilakukan perempuan, bukan dilihat karena dia (perempuan) adalah manusia yang kapanpun bisa saja melakukan kesalahan, bahkan tindakan criminal. Namun realitasnya, ketika perempuan sebagai pelaku kejahatan, dunia mengecam secara habis-habisan. Padahal so what kalau dia perempuan? Dia perempuan tidak semata membawa tubuhnya, tapi di balik itu semua dia juga memiliki sejarah. Begitu pun dengan laki-laki.

Namun yang terjadi seakan sah ketika objek beritanya perempuan, maka yang ditonjolkan bukan pada apa yang telah diperbuatnya, melainkan melebar pada persoalan tubuhnya. Seperti MD dan Selly, bukan lagi pada tindak kejahatan yang mereka lakukan. Tapi lebih pada hal-hal sensasional seperti MD dengan beberapa bagian tubuhnya.

Pun ketika objek beritanya perempuan korban pelecehan dan kekerasan seksual, yang ditonjolkan bukan sekadar pada alasan dan motif yang sesungguhnya dari pelecehan dan kekerasan seksual tersebut. Media sangat sering memberitakan adegan pelecehan dan kekerasan seksual tanpa berusaha mengaitkannnya dengan kondisi objektif masyarakat, dan memberi tips bagaimana menghindarinya.

Diakui atau tidak, dalam hal ini pers memegang peranan yang sangat besar dalam sosialisasi nilai di masyarakat termasuk dalam bidang seksual. Eksploitasi melalui pers, baik terang-terangan dan vulgar maupun yang halus artistik, dalam kehidupan masyarakat modern terlihat jelas. Karena selama ini, perempuan yang menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual tidak memperoleh kesempatan untuk mengungkapkan apa yang mereka alami secara gamblang.

Meskipun saat ini sejumlah media sudah memberi cukup kebebasan perempuan bersuara, namun kesempatan yang diberikan tersebut belum bisa menghapus stereotype yang terlebih dahulu menyebarkan citra negatif perempuan. Sepertihalnya MD yang menuntut pelaku penyebar foto seksinya, serta Selly yang menuntut pelaku penyebar fitnah dirinya sebagai perempuan penipu di jejaring sosial facebook. Artinya apapun yang akan mereka lakukan untuk mengembalikan nama baiknya, sulit untuk mengembalikan citra baiknya.

Perempuan, Media dan Khalayak

Peran media massa dalam kehidupan social menurut beragam literatur sudah tidak tidak diragukan lagi. Walau kerap dipandang secara berbeda-beda, namun tidak ada yang menyangkal atas perannya yang signifikan dalam masyarakat modern. McQuail misalnya, dalam bukunya Mass Communication Theories (2000: 66), merangkum pandangan khalayak terhadap peran media massa. Setidaknya ada enam perspektif dalam hal melihat peran media. Pertama, melihat media massa sebagai window on events and experience. Media dipandang sebagai jendela yang memungkinkan khalayak “melihat” apa yang sedang terjadi di luar sana. Atau media merupakan sarana belajar untuk mengetahui berbagai peristiwa.

Kedua, media juga sering dianggap sebagai a mirror of events in society and the world, implying a faithful reflection. Cermin berbagai peristiwa yang ada di masyarakat dan dunia, yang merefleksikan apa adanya. Karenanya para pengelola media sering merasa tidak “bersalah” jika isi media penuh dengan kekerasan, konflik dan berbagai keburukan lain, karena memang menurut mereka faktanya demikian, media hanya sebagai refleksi fakta, terlepas dari suka atau tidak suka. Padahal sesungguhnya, angle, arah, dan framing dari isi yang dianggap sebagai cermin realitas tersebut diputuskan oleh para profesional media, dan khalayak tidak sepenuhnya bebas untuk mengetahui apa yang mereka inginkan.

Ketiga, memandang media media massa sebagai filter, atau gatekeeper yang menyeleksi berbagai hal untuk diberi perhatian atau tidak. Media senantiasa memilih issue, informasi, atau bentuk content yang lain berdasar standard para pengelolanya. Di sini khalayak “dipilihkan” oleh media tentang apa-apa yang layak diketahui, dan mendapat perhatian. Keempat, media massa acapkali pula dipandang sebagai guide, penunjuk jalan atau interpreter, yang menerjemahkan, dan menunjukkan arah atas berbagai ketidakpastian, atau alternatif yang beragam.

Sedangkan kelima, melihat media massa sebagai forum untuk mempresentasikan berbagai informasi dan ide-ide kepada khalayak, sehingga memungkinkan terjadinya tanggapan dan umpan balik. Yang terakhir, keenam, media massa sebagai interlocutor, yang tidak hanya sekedar tempat berlalu lalangnya informasi, tetapi juga partner komunikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi yang interaktif.

Pendeknya, semua itu ingin menunjukkan, peran media dalam kehidupan sosial bukan sekadar sarana diversion, pelepas ketegangan atau hiburan, tetapi isi dan informasi yang disajikan, mempunyai peran yang signifikan dalam proses sosial. Isi media massa merupakan konsumsi otak bagi khalayaknya, sehingga apa yang ada di media massa akan mempengaruhi seperti diistilahkan Peter Berger (1979:13), sebagai realitas subyektif pelaku interaksi sosial. Atau dengan istilah lain dari Walter Lippman (1921), media massa mampu menanamkan the pictures in our heads tentang realitas yang terjadi di dunia ini.

Gambaran tentang realitas yang “dibentuk” oleh isi media massa inilah yang nantinya mendasari respond dan sikap khalayak terhadap berbagai obyek sosial. Informasi yang salah dari media massa akan memunculkan gambaran yang salah pula pada khalayak, sehingga akan memunculkan respond dan sikap yang salah juga terhadap obyek sosial itu. Karenanya media massa dituntut menyampaikan informasi secara akurat dan berkualitas. Kualitas informasi inilah yang merupakan tuntutan etis, dan moral penyajian isi media. Persoalannya dalam kehidupan empiris, sikap, dan perilaku manusia atas suatu obyek lebih ditentukan oleh gambaran yang ada di kepalanya atas obyek itu, dari pada keadaan yang sesungguhnya atas obyek tersebut.

Dari sejumlah respon yang ditujukan pada MD dan Selly, jelas tidak adanya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan di media, termasuk ketika keduanya sama-sama sebagai pelaku tindak kriminal. Seakan jika pelaku kejahatannya adalah lelaki, maka dia (lelaki) hanya akan dihujat karena perilaku kejahatannya. Berbeda ketika perempuan sebagai pelaku kejahatan, maka tidak hanya perilakunya, tetapi juga tubuhnya sebagai perempuan menjadi sasaran empuk untuk dihujat sekaligus ’dinikmati’.

Sehingga seperti diungkap Rosemary Thong dalam bukunya ”Feminist Though A Comprehensive Introduction”, perlu adanya kesetaraan gender dalam berbagai sektor kehidupan, agar tidak terjadi lagi ketidakadilan terhadap perempuan. Dalam hal ini termasuk media massa harus berperspektif gender dalam menyebarluaskan pemberitaannya.

Di sinilah, jurnalis dan institusi media kembali diingatkan akan pentingnya mempunyai sensitif yang tinggi dalam permasalahan perempuan, dan untuk menghasilkan jurnalisme yang berperspektif gender, sepertinya profesional media massa harus bekerja keras.

Menurut Nur Imam Subono (2003), jurnalisme berperspektif gender dapat diartikan: Sebagai kegiatan atau praktik jurnalistik yang selalu menginformasikan atau bahkan mempermasalahkan dan menggugat secara terus-menerus, baik dalam media cetak (seperti dalam majalah, surat kabar, dan tabloid) maupun media elekronik (seperti dalam televisi dan radio) adanya hubungan yang tidak setara atau ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan.

Kendati demikian, di tengah kemudahan akses media dan kebebasan pers, publik juga seharusnya lebih dewasa dalam membaca dan menyikapi apa yang diterimanya dari media. Artinya di luar kebebasan berekspresi yang memang wajar dan diharuskan, media juga jangan menganggap pembaca itu bodoh. Karena sekecil apapun pemberitaan yang dikeluarkan media, masyarakat akan mengapresiasinya.[]

*Penulis adalah Dosen Institute Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon dan Fellow di Paramadina Graduate Schools (PGS) of Political Communication di Jakarta.

Tulisan ini dimuat di Harian Kabar Cirebon Tanggal 7 Juni 2011 dan fahmina