Mahasiswa dan Dosen Bamberg Germany Memotret Sisi Lain Islam di Indonesia

Kunjungan ke Fahmina adalah upaya mendapatkan satu wajah Islam di Indonesia dan dunia. Fahmina memiliki topik, isu dan kerja-kerja yang sangat menarik.”

Kalimat tersebut diungkapkan Prof Dr Patrick Franke, di tengah forum diskusi bersama mahasiswa dan dosen Institute Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon pada Selasa (7/8). Hari itu, sebanyak 18 dosen dan mahasiswa dari Universitas Bamberg, Jerman melakukan kunjungan studi ke ISIF dan berdiskusi tentang Islam di ruang Gotrasawala ISIF Jl. Swasembada No.15 Majasem, Kota Cirebon.

1344403319563523759suasana perkenalan mahasiswa dan dosen Bamberg Germany bersama ISIF

Patrick Franke adalah salah satu profesor dari Otto-Friedrich-Universität Bamberg Islamwissenschaft /Islamic Studies, An der Universität 11, D-96045 Bamberg, Germany. Dia juga yang menjadi semacam ketua rombongan dan memimpin 18 mahasiswa Islamic studies and Interreligious studies universitas Bamberg, dalam perjalanan ke beberapa tempat dan universitas di Indonesia yang fokus pada isu Islam dan pluralism agama di Indonesia.

Selama beberapa pekan mulai dari 27 Juli-9 Agustus 2012, ISIF adalah satu-satunya kampus swasta yang mereka kunjungi yang fokus pada Islam dan pluralisme agama di Indonesia. Patrick Franke sendiri mengetahui tentang Yayasan Fahmina, LSM Fahmina-institute dan kampus ISIF dari website Fahmina-institute.

1344403400212978303519 Mahasiswa dan dosen Bamberg University Germany berfoto bersama keluarga besar Yayasan Fahmina

Kunjungan mereka ke Fahmina adalah untuk mendapatkan potret realitas kehidupan muslim di Indonesia, terutama tentang Islam dan komunitas agama lain di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Apalagi, lanjut Patrick Franke, Indonesia adalah negara dengan jumlah muslim terbanyak. Ini merupakan hal yang baru dan sangat menarik bagi mereka.

Sebelumnya, Islam hanya dilihat dan dikaji dari Timur Tengah saja. Seperti Arab, Iran, Turki dan negara lainnya. Tapi rombongan dari Bamberg ini mencoba melihat Islam dari sisi yang lain.

“Jika selama ini dunia melihat Islam hanya dengan melihat Timur Tengah, kami mencoba untuk menepis anggapan itu dan memalingkan wajah ke Indonesia,” paparnya.

Bagi Patrick Franke, ISIF merupakan lembaga pendidikan dengan misi di bidang kesetaraan gender, demokrasi dan pluralisme agama. “kami akan sangat senang jika kita bisa mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi lembaga anda. Selama perjalanan kami untuk mengetahui lebih lanjut tentang kegiatan anda dan mungkin juga untuk mengembangkan kerjasama dengan Pusat Studi Antaragama kami,” demikian Patrick Franke ketika mengungkapkan rencana kunjungannya ke ISIF Cirebon.

Sementara itu, Rektor ISIF, Prof. KH. Chozin Nasuha, mengucapkan rasa terima kasih dan rasa bangganya atas kunjungan dari Bamberg University.

“Terima kasih, kami sangat bangga menerima kedatangan tamu dari Jerman. Semoga tidak kali ini saja mengunjungi kampus ini. Kita juga berharap mendapatkan banyak pengetahuan dan saling berbagi pengetahuan dalam pertemuan ini,” ujarnya.

Gayeng, Ngakrabi, dan Bukber

Tepat pukul 14.30 WIB, rombongan mereka pun tiba kampus ISIF Cirebon. Disambut dengan iringan music “Ki Lungsu”, salah satu grup akustik mahasiswa ISIF. Selama 4 jam itulah, civitas akademika ISIF menerima kunjungan 19 mahasiswa dan dosen dari Bamberg University, Germany. Acara dimulai dengan masing-masing menyanyikan lagu daerah, baik yang dari Bamberg juga dari Cirebon. Selanjutnya dilanjutkan dengan melihat potret kehidupan sosial-kegamaan dalam video profil Fahmina. Setelah itu, sharing antar peserta mengenai budaya dan Islam yang dialami di daerahnya masing-masing. Terakhir kegiatan ini ditutup dengan berbuka puasa bersama.

Gayeng, ngakrabi, buka puasa bareng (Bukber) sambil lesehan di halaman kampus layaknya orang ngambeng, demikian istilah Marzuki Wahid, Ketua Majelis Pengurus Yayasan Fahmina-institute Cirebon.

https://i1.wp.com/stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/08/13444034911628326940.jpgbuka puasa bareng

“Ini kunjungan kedua kalinya dari Universitas di Germany, setelah sebelumnya dari Universität Passau, Germany. Ketiga kalinya jika mahasiswa magang 2 bulan dari University of Heidelberg dihitung. Tentu saja kami bangga sekali, apalagi kampus kami masih seumur jagung, selain itu juga mungil dan sangat sederhana,”

Sejak berdirinya, kurikulum ISIF mamang memasukkan Studi Gender dan Seksualitas, Studi Hak Asasi Manusia (HAM), Studi Demokrasi, Studi Pluralisme, Studi Budaya Lokal, dan Studi Gerakan Sosial dalam mata kuliah wajib S1-nya. Ini juga menurutnya sesuai dengan dengan Pasal 4 Ayat (1) UU Sisdiknas: yang berbunyi: “Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.”

laporan ini juga bisa dilihat di website ISIF dan Fahmina, ditulis oleh saya sendiri dan salah satu mahasiswa ISIF, Abdul Rosyidi.

Adapun sumber foto-foto dari kami, juga dari facebook mahasiswa dan komunitas ISIF

http://www.facebook.com/pipihindah.permatasari

http://www.facebook.com/elzabeed