Category Archive: satu waktu

sudah cukup

rasanya sudah cukup mengakui bahwa terlalu banyak momen terlewati begitu saja. Seperti biasa, aku pun memang sudah terlalu sering mengungkapkannya. Hingga aku sendiri bosan. Lebih-lebih ketika tuntutan-tuntutan bercakar di kepala tak pernah berhenti,… Continue reading

benar, aku menangis…

“bacalah, kau pasti menangis…,” ujar lelaki paruh baya itu tentang tulisannya yang telah dibukukan bersama sejumlah penulis lainnya. ia menulis tentang Gus Dur. Tulisan “epilog”-nya di urutan paling akhir. Tepatnya, sekitar dua puluh… Continue reading

dunia sendiri

Ingin yang telah lama mengendap, seakan hilang. Terganti dengan ingin-ingin lain yang nyaris serupa. Tuntutan-tuntutan desakan-desakan serupa ingin sebelumnya. Muaranya tetap sama. muncul dari duniaku sendiri. Dunia tanpa pundak siapapun. Membiarkannya kusut. Lalu… Continue reading

tentang pagi

pagi ini. dan pagi-pagi kemarin yang kutemui di tiap hari. masih sama. langkah dan raut wajahnya masih sama. semuanya tertangkap oleh mataku. tetap masih sama. bahkan, ketika kumencoba bergeser dengan mempercepat langkahku, pun… Continue reading

katamu

di satu siang mendung; Lelaki. Betapa kau, lelaki, tak pernah bisa mengerti dingin sukmaku. Sebab keringatmu selalu berhenti pada panas gelora yang terus kau sangka adalah rintihan pilu tubuhku. Kini aku tak tahu,… Continue reading

karena aku…

Mungkin benar. Mungkin juga tidak. Ruang kepala ini selalu dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan. Kemarin begitu antusias. Kini tidak seantusias kemarin. Tapi selalu menolak dikatakan pesimis. Karena keinginan makin hari semakin besar. Selalu muncul keinginan-keinginan… Continue reading

kegelapan

Selesai, nona yang baik; hari yang terang sudah berlalu, dan kita menyongsong kegelapan (William Shakespear)

tentang ‘lalu’

otakku berusaha menyerap fakta. tentang masa lalu yang tak seperti masa lalu mereka. menyerap, menganalisis, dan menerimanya. hingga sampai di satu kesadaran, aku mendidik diriku menjadi sosok yang penuh dengan fakta-fakta rumit. dan… Continue reading

detik itu

perempuanku. detik itu. malam itu. lagi-lagi ia kembali memutar otaknya. tentang bagaimana agar detik itu tetap berjalan. setidaknya untuk beberapa hari ke depan. setidaknya untuk kehidupan lain selain kehidupannya. bagimu mungkin klise. tapi… Continue reading

menikmati bungkam

aku selalu kesulitan untuk mengeluhkan sesuatu. banyak hal sesungguhnya untuk dikeluhkan. tapi duniaku menahanku. hingga aku terbiasa menikmati bungkam dengan kata-kata. tapi tidak dengan imajinasi dan huruf-huruf. bahkan ketika mulut ini baru saja… Continue reading