Rakyat Palestina seperti di Penjara

Anak-anak Palestina menunjukkan tangan mereka dengan tulisan "Bebas" dan 'Gaza' dalam demonstrasi di Tebi Barat, Sabtu (10/1). (www.kompas.com)Kamis, 23 April 2009 | 08:18 WIB

KOMPAS.com — Nasib warga Palestina di Tepi Barat tak jauh berbeda dengan warga Palestina di Jalur Gaza, sama-sama hidup bak di penjara. Blokade total membelenggu Jalur Gaza. Tembok pemisah dan ratusan pos pemeriksaan militer Israel mencekik kehidupan warga Tepi Barat.

Ada anekdot di Tepi Barat. Perjalanan dari Ramallah ke Nablus yang berjarak 80 km butuh waktu minimal 7 jam, lebih lama ketimbang penerbangan dari Ramallah ke London.

Jika warga ingin bepergian dari satu kota ke kota lain di Tepi Barat, mereka harus melewati puluhan pos pemeriksaan militer di mana mereka menjalani pemeriksaan ketat dan interogasi secara detail. Di setiap pos itu warga harus antre panjang. Perlu waktu berjam-jam untuk mendapat giliran diperiksa dan diinterogasi.

Saat antre, warga kadang harus rela kehujanan dan kedinginan di musin dingin, atau gerah di musim panas. Pada setiap pos itu, warga harus menunjukkan identitas dan surat izin bepergian yang dikeluarkan Israel.

Keberadaan pos pemeriksaan, dibangunnya tembok pemisah Israel-Palestina, serta adanya puluhan permukiman Yahudi membuat Tepi Barat terkotak-kotak. Melintasi dari satu blok ke blok lain bak melintas beberapa negara.

Saat giliran diperiksa dan diinterogasi, setiap warga ditanyai dari mana, mau ke mana, kapan pergi, kapan kembali? Saat diperiksa, warga sering mendapat pelecehan atau provokasi dari serdadu Israel.

Warga Tepi Barat harus melewati pintu elektronik yang mendeteksi barang dan diminta melepas baju kecuali celana dalam.

Ini harus dilalui walau warga bepergian ke kota atau desa lain hanya untuk menengok saudara, keluarga. Warga tidak dapat bepergian ke suatu kota atau desa yang dinyatakan sebagai daerah militer Israel. Jika memaksakan diri, warga bisa ditangkap atau ditembak.

Warga harus siap selalu melihat kota atau desanya diobrak-abrik. Warga tidak pernah bisa tidur nyenyak.

Isam Ahmed, seorang kartunis Palestina asal Bethlehem, kepada harian Asharq Al Awsat mengungkapkan, ia juga mengalami semua itu ketika ingin bepergian dari Bethlehem ke Ramallah yang berjarak 40 km, yang harus ditempuh minimal tiga sampai lima jam.

Ahmed menuturkan, panjang antrean kendaraan di pos pemeriksaan bisa mencapai dua kilometer. Derita Ahmed adalah potret derita 1,7 juta jiwa penduduk Palestina di Tepi Barat.

Meninggal di jalan

Beberapa lembaga hak asasi manusia Palestina menemukan puluhan kasus orang sakit yang hendak menuju rumah sakit akhirnya meninggal di perjalanan. Kadang seorang wanita hamil harus melahirkan di pos pemeriksaan.

Laporan Departemen Kesehatan Palestina menyebutkan, sejak tahun 2000 hingga 2007 ada 68 kasus wanita hamil melahirkan di jalan raya, 34 wanita keguguran di tengah jalan, dan 4 wanita hamil meninggal dunia. Serdadu Israel mengabaikan imbauan agar memberi prioritas kepada wanita hamil.

Terdapat pula 137 warga Palestina yang sakit, meninggal dunia di tengah jalan karena serdadu Israel tidak mengizinkan ambulans mengambilnya untuk dibawa ke rumah sakit.

Cerita tembok pemisah yang dibangun di Tepi Barat sejak era PM Ariel Sharon tahun 2002 menambah beban. Tembok pemisah itu dicanangkan memiliki panjang 786 km dan terentang dari sekitar kota Jenin di utara ke Hebron di selatan.

Tembok itu telah membuat terpencil 343.000 warga. Tembok itu juga memisahkan keluarga. Pembangunan tembok itu telah mencaplok sekitar 43 persen tanah Tepi Barat.

Tembok itu memisahkan wilayah Tepi Barat. Ada blok wilayah utara yang meliputi kota Jenin, Nablus, dan Tul Karem. Blok wilayah tengah meliputi Ramallah dan Salfit. Blok wilayah Selatan mencakup Bethlehem dan Hebron.

Selain itu ada blok terpencil, yaitu kota Jericho dan Kalkiliya, yang dikelilingi tembok pemisah dan hanya ada satu pintu masuk dan keluar dua kota tersebut yang dijagai serdadu Israel.

Badan statistik Palestina mengungkapkan, hanya 5 persen sumber air di Tepi Barat yang dikuasai Palestina. Hal itu membahayakan lahan pertanian Palestina di wilayah tersebut. Misalnya Desa Gayush di Tepi Barat kini telah kehilangan 70 persen lahan pertanian karena kurangnya air dan pencaplokan demi pembangunan tembok.

Banyak juga penduduk kota Tulkarem dan desa sekitarnya yang sudah kehilangan mata pencarian. Angka pengangguran meningkat tajam.

Mahkamah internasional dan PBB telah mengutuk tindakan Israel membangun tembok pemisah yang dinyatakan ilegal. Masyarakat internasional, termasuk AS, juga mengkritik tersebarnya pos pemeriksaan.

Sepanjang sejarah Israel, yang berdiri tahun 1948, negara ini memang tidak pernah peduli pada perintah dan keputusan PBB. Israel terus seperti berlagak berada di atas hukum jika menyangkut wilayahnya. (MTH)

Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2009/04/23/08180329/rakyat.palestina.seperti.di.penjara