sesaat setelah kelu

lelah kali ini seperti biasa. aku kembali lantang meneriakkan diri. “aku tak takut pada apapun,” hiburku dalam teriakkan itu. aku telah sampai pada inginku. aku akan sampai pada ingin-inginku yang lain. apapun dan siapapun tak berhak mengikat inginku. aku tak peduli ingin itu teraih dalam sekejap mata, menjelang ajalku, atau bahkan hanya teraih dalam ruang kepalaku. aku memiliki ingin. aku melepas segala rasa tertekan. aku melepas rasa takutku akan sesuatu yang mampu memutuskan nalar inginku. bahkan ketika sesuatu dan waktu merenggut inginku, aku tetap dengan isi kepalaku, yang di dalamnya ada ingin-ingin yang lain. aku memastikannya. karena hanya kelu. hanya kelu tiba-tiba muncul akibat refleks inginku yang tak teraih saat ini. lalu? lalu sesaat setelahnya, aku kembali bangkit dengan ingin-ingin lainnya yang sejatinya sama. inginku adalah ruhku. inginku adalah penghargaanku atas kehidupanku, dia, mereka, dan segala. jadi aku menikmati inginku. ingin yang sesaat menjadi terkoyak, terputus, terbuang, terabaikan, terpuruk dan lalu bangkit lagi. bangkit lagi. dan bangkit lagi.