tentang “berbeda”

Aku lebih suka menuliskannya “berbeda”, meskipun sebenarnya bisa saja ditulis “perbedaan”. Akhirnya ada satu waktu mengeluarkan isi kepalaku ini. Aku berharap isi kepalaku ini tidak menjadi pemicu hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti blogger lainnya, aku hanya ingin sharing (berbagi) isi pikiran.

Beberapa hari sebelum ini, aku menulis berita tentang kasus penyerangan Ahmadiyah di Manis Lor Kuningan Jawa Barat (Jabar). Aku menulisnya untuk media on line di lembagaku, aku juga share-kan ke facebook. Tentu saja, komentar orang yang membacanya berbeda-beda. Tepat setelah sharing berita tersebut, aku juga share-kan tulisan catatan pinggir (Caping) Gunawan Muhammad (GM) dari majalah TEMPO.

Ada salah satu sahabat facebooker sekaligus sahabat blogger yang pertanyaannya belum kujawab. Karena space komentar yang disediakan facebook sangat terbatas, maka aku memilih sharing-nya via blog ini.

Kepada sahabat mayaku, Muhammad Joe Sekigawa, sebelumnya terimakasih atas responnya di artikel GM tentang Ahmadiyah. Siapapun, akan senang ketika postingannya mendapat komentar. Begitupun aku, tak peduli dia kontra atau tidak, bagiku tetap menarik. Karena secara tidak langsung saya diajak berdiskusi tentang suatu hal. Termasuk pertanyaanmu tentang tentang apakah aku sudah membaca atau sudah mengetahui tentang “Tadzkirah/Tadhkirah” (karena ada beberapa ejaan yang berbeda yang digunakan, tetapi maknanya sama), kitab yang dinilai sebagai kitabnya Jemaat Ahmadiyah (“Jemaat” istilah “Jamaah” yang digunakan orang Ahmadiyah)?

Jika pertanyaannya adalah sudah tahu atau belum, maka jawaban saya adalah saya sudah tahu dan saya sudah membacanya. Sekali lagi, meski sekadar pertanyaan, ini bisa jadi gerbang kita mendapat pengetahuan baru, baik aku maupun kau. Ketika membaca pertanyaanmu, aku teringat dengan pertanyaanku sendiri yang pernah aku lontarkan kepada salah satu temanku yang sedari kecil sudah menjadi salah satu Jemaat Ahmadiyah. Keluarga besarnya memang semuanya Ahmadi. Pertanyaan yang kamu ajukan sama seperti pertanyaanku beberapa tahun lalu, tepatnya tahun 2006. Namun pertanyaanku sedikit lebih jauh. Di mulai dari; “Apakah benar Tadzkirah itu kitab jemaat Ahmadiyah selain al-Qur’an?”. Demikian aku bertanya pada temanku itu hingga berlanjut pada obrolan yang lebih jauh lagi.

Jawaban dia yang paling aku ingat adalah, “Bukan, Tadzkirah ditulis bukan untuk menyamakan al-Qur’an atau menggantikan al-Qur’an. Kitab suci kami tetap al-Qur’an, Tuhan kami tetap Allah Swt, Rasul kami juga tetap Muhammad SAW. Tadzkirah adalah buku yang isinya tentang perjalanan spiritual Mirza Ghulam Ahmad (MGA).

Demikian temanku itu bercerita, sebenarnya kami mengobrol lebih banyak lagi. Tapi aku belum bisa bercerita lebih banyak lagi di sini.

Setelah mendengar teman saya itu, saya mulai mencari tahu informasi tentang Ahmadiyah. Karena sebelumnya pengetahuan saya tentang Ahmadiyah memang hanya sekadar mendengar saja, belum mencoba mencari tahu lebih dalam. Dalam buku Tadzkirah, tertulis di halaman sampulnya “Buku Tadzkirah” di situ tertulis: Tadzkirah yakni wahyu Muqaddas Ru’ya Wa Kusyuf Hazrat Bani Silsilah Ahmadiyah dan tidak tertulis “Tadzkirah yakni Kitab Muqadas……..dan seterusnya.”

Bagi orang yang sedikit punya ilmu bahasa Arab akan mengerti apa itu sifat mausuf. Jadi sifat Muqaddas yang artinya suci dari Allah SWT. Serta terbebas dari syaitani adalah tertuju kepada sifat dari Wahyu, Ru’ya dan Kasyaf yang ada di dalamnya dan bukan sifat dari buku atau kitab itu. (harap maklum, bahwa kata ‘buku’ di dalam bahasa Arab dan Urdu adalah ‘kitab’)

Jadi artinya yang tepat dan benar serta akurat adalah “Tadzkirah” yaitu wahyu suci, Ru’ya dan Kasyaf pendiri silsilah Ahmadiyah. Alhasil, sangat keliru kalau diterjemahkan atau dikatakan kitab suci atau kitab suci Tadzkirah. Pendek kata, sudah menjadi harga mati bahwa kitab suci orang Muslim Ahmadiyah adalah Al-Qur’an yang 30 juz. Satu ayat bahkan satu huruf atau satu titik pun tidak ada yang dikurangi atau ditambah.
Dan Jemaat Muslim Ahmadiyah dalam umurnya yang ke 119 tahun atau dalam Jublium 100 tahun khilafatnya sedang menyelesaikan untuk menerjemahkan Alquran kedalam 100 bahasa dunia serta telah berhasil mengajarkan dan menyebarkannya di 190 negara di dunia.

Sedangkan tentang Tadzkirah, seperti diterangkan di halaman 1 di atas yang artinya Tadzkirah yakni (yaitu) wahyu suci, Ru’ya, Kasyaf dari pendiri silsilah Ahmadiyah awalnya adalah berupa catatan-catatan pendiri Ahmadiyah tentang kasyaf, ilham, wahyu dan mimpi-mimpi yang benar yang beliau terima sendiri dari Allah Ta’ala dan beliau catat dibanyak buku, selebaran atau majalah-majalah yang diterbitkan di zaman beliau.
Setelah 27 tahun beliau meninggal (jadi Hazrat Mirza Ghulam Ahmad tidak mengetahui), yaitu tahun 1935 catatan-catatan itu dikumpulkan, dihimpun, dan diberi nama ‘Tadzkirah’. Sebelum tahun 1935 – saat Ahmadiyah telah berdiri di dunia selama 46 tahun – kumpulan catatan itu belum mempunyai nama. Jadi, nama Tadzkirah itu baru ada setelah dicetak untuk pertama kalinya pada tahun 1953. Sedangkan cetakan ke-2 dan ke-3 diterbitkan masing-masing pada tahun 1956 dan 1969. karena itu, mengatakan bahwa Tadzkirah adalah kitab sucinya Ahmadiyah adalah perkataan yang sangat janggal dan hujatan palsu yang sangat keji. Di India dan Pakistan sendiri tidak pernah ada hujatan semacam ini.

Pendiri Ahmadiyah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad menegaskan : “tidak ada yang masuk ke dalam Jamaah kami kecuali orang yang telah masuk Islam dan mengikuti Kitab Allah Al-Qur’an dan sunnah-sunnah junjungan kami, Muhammad SAW. yang merupakan sebaik-baiknya ciptaan serta telah yakin benar berkenaan dengan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Pengasih dan Rasul-Nya, Hari Qiamat, Surga dan Neraka; dan ia (setiap Ahmadi) berjanji dan berikrar tidak akan memilih agama selain agama Islam serta ia akan mati di atas agama ini, yaitu agama fitrah dengan berpegang teguh kepada Kitab Allah Yang Maha Tahu dan mengamalkan setiap apa yang terbukti sebagai sunnah, Al-Qur’an dan Ijma’ Sahabat yang mulia; dan siapa yang mengabaikan tiga hal ini, sungguh ia telah membiarkan jiwanya dalam Api Neraka”. ( Ruhani Khazain,19 : 315 ).

Sahabat blogger yang baik, ini hanya sekadar berbagi pengetahuan saya yang masih sedikit. Saya memilih berbagi seperti ini karena sebelumnya ada respon yang baik dari beberapa sahabat. Posisi saya bukan sebagai Ahmadi karena memang saya bukan Ahmadi, posisi saya hanya penyampai pengetahuan yang saya tahu meski terbatas. Selain itu juga ingin menyampaikan bahwa kondisi Ahmadi di Manis Lor Kuningan memang tak henti-hentinya terteror baik fisik maupun psikis. Di Kuningan jumlahnya memang terbanyak. Kecaman dan penyerangan yang menimpa Ahmadiyah Manis Lor memang hampir tiap tahun terjadi. Tahun ini memang menggejolak setelah penyerangan terbesar tahun 2007. Sedangkan tahun 2008 dan 2009 tidak sebesar ini.

Maksud dari tulisan ini, sebenarnya ingin sekali menyampaikan bahwa seberbeda apapun keyakinan atau pandangan kita pada satu golongan maupun lainnya, tidak bisa dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan. Apa yang direspon lembaga kami (Fahmina-institute Cirebon) juga bukan soal yang sifatnya privasi, seperti berkeyakinan, beragama, atau memilih aliran tertentu dalam agama atau keyakinan. Kami merespon sesuatu yang bersifat sosial/publik yang menyangkut kehidupan bersama, baik dalam konteks kemasyarakatan, kenegaraan, maupun kebangsaan.

Kami merespon Ahmadiyah bukan karena aqidahnya atau agamanya. Kami merespon Jamaat Ahmadiyyah sebagai manusia, sebagai makhluk Allah, sebagai warga negara. Mereka memiliki karamatul insan dan hak-hak yang sama dengan yang lain. Tak seorang pun, atas nama apapun, mendiskriminasikan, mengganggu, merusak, mengusir, dan melakukan kekerasan kepadanya. Ini yang kami respon, perjuangkan, dan bela, yakni menegakkan keluhuran kemanusiaan, keadilan, dan kemaslahatan. Kami berjuang menegakkan ini tidak pernah melihat baju mereka, agama mereka, keyakinan mereka, gender mereka, dan juga etnik mereka. Kami melihatnya semata-mata mereka adalah manusia dan makhluk Allah SWT. Tak satu ayatpun dalam al-Qur’an dan tak satu haditspun yang mentolerir kekerasan, pengrusakan, pengusuiran, dan mengganggu kehidupan orang lain.

Mungkin inilah kenapa aku mengutip kalimat Dan Brown tentang “buka pandangan mata kalian, Sobat-sobat. Kita semua takut terhadap sesuatu yang tidak kita pahami.” (Robert Langdon, dalam “The Lost Symbol”-nya Dan Brown). Terkadang kita takut (termasuk aku juga dalam beberapa hal) terhadap sesuatu, padahal ternyata kita menakuti sesuatu yang belum kita fahami. Ketakutan tidak harus selalu dimaknai “takut” dalam arti sebenarnya. “Takut” juga bisa dimaknai dengan pikiran atau pemahaman akan sesuatu yang masih terbatas, dan melahirkan respon atau sikap yang menghalangi kita untuk berpikiran positif tentang sesuatu itu. Kita merasa diri kita benar dan mereka salah. Karena kita benar dan mereka salah, otomatis dianggap “berbeda”. Karena “Berbeda”, maka kita tidak perlu mengetahui atau memahami lebih jauh, karena lagi-lagi kita takut akan menjadi “sama” dengan sesuatu yang kita anggap “Berbeda” tersebut. Efek yang lebih jauh dari rasa “takut” itu adalh terkadang kita berpandangan negative, bahkan terkadang juga membuahkan sikap/tindakan negative seperti melakukan tindak anarkhis (kekerasan) yang ditujukan pada sesuatu yang kita merasa itu berbeda.

Dalam artian bahwa, kita belum memahami suatu hal, atau mungkin kita hanya mengetahui sesuatu sebagiannya saja dari sumber orang lain atau media yang juga beragam pemahamannya, tetapi kita sudah menganggap itu benar bahkan paling benar. Sehingga efeknya kita juga sama-sama terprovokasi dengan anggapan-anggapan di luar, tanpa mencoba memahami yang sebenarnya seperti apa. Kalaupun sudah mengetahui bahwa sesuatu itu memang berbeda, bukan hak kita untuk memusuhinya bahkan melakukan kekerasan atasnya.

Sehingga sebelum berkesimpulan tentang Ahmadiyyah, mungkin kita bisa mencoba memahami dan mengkaji dulu ajaran-ajaran Ahmadiyyah secara jernih dan obyektif. Bertemu dengan tokoh-tokohnya dan dialog langsung dengannya untuk memahaminya dari sisi mereka, bukan pemahaman Ahmadiyyah dari sisi orang luar, apalagi membencinya. Sebab, di dalam Ahmadiyyah pun ada beberapa aliran yang berbeda, sebagaimana di dalam sekte Syi’ah atau juga sekte Sunni.

Aku pribadi, selama ini mencoba memahami segala sesuatu bukan atas dasar hitam dan putih. Benar atau salah. Aku terus melihat segala sesuatu berdasarkan beyond the reality sebuah objek realita. Siapapun aku dan dari golongan manapun aku berasal, aku terus ingin belajar dari siapapun. Aku beruntung belajar dan berteman dengan orang atau golongan yang memiliki keyakinan dan pemahaman yang berbeda denganku.

Sekali lagi ini hanya sharing kawan, bukan untuk menilai atau memutuskan sesuatu itu salah atau benar. Perbedaan kadang membuat kita melupakan arti manusia sebagai mahluk sosial, bahkan sering mengenyampingkan hati-nurani. Kadang saya berpikir, seandainya Tuhan tidak memberi manusia akal-budi. Akal-budi dan kemampuan manusia untuk berpikir telah membuat manusia menjadi penghancur, penghancur dirinya sendiri.

Di tengah kehidupan yang heterogen seperti sekarang ini, perbedaan semakin diperdebatkan, saya putih, kamu hitam, saya benar kamu salah. Keyakinan adalah hal yang paling sering menjadi gejolak, Indonesia yang heterogen sangat rentan dengan gejolak, hal kecil diperdebatkan, hal besar dibakar bakar. Tapi semoga kita menjadi bagian dari orang yang terus belajar seumur hidup. Karena memang persoalan juga akan terus ada seumur hidup kita. Jika kita menempatkan diri kita sebagai pembelajar, maka kita tidak terjebak pada sikap menghakimi sesuatu.